Bersama Al-Mahdi Membangun
Rumah
Idaman Di Bumi
Pertiwi
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku khabarkan berita
gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah umatku ketika banyak
terjadi perselisihan antar manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi
dengan Keadilan dan Kejujuran
sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan Kesewenang-wenangan
dan Kezaliman.” (HR. Ahmad)
Umat Yang Dalam ‘Kebingungan’
Menegakkan (membangun) Agama dapat
dikiyaskan bagaikan membangun sebuah rumah. Rumah akan berdiri dengan tegak dan
kokoh bila semua komponennya terbangun dengan baik sesuai dengan
urut-urutannya. Komponen-komponen rumah adalah: Pondasi, Tiang, Tembok,
Pintu-Jendela dan Atap. Demikian juga Agama yang dalam pembangunan atau penegak-annya
mesti sesuai dengan Juklak, petunjuk pelaksanaannya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul. Tentunya ada satu hal lagi yang mesti ada yaitu seorang Mandor yang
mengarahkan pelaksana-annya, dalam hal ini Sang Rasul sebagai Pimpinan Proyeknya.
Namun yang terjadi pada kondisi
saat ini adalah juklaknya tersebar secara tidak lengkap ke berbagai kalangan
umat Islam. Perjalanan Syi’ar sesuai Risalah Kerasulan dipahami dengan
sepenggal-sepenggal mencuplik dari fragmen waktu yang berbeda-beda sehingga
pemegang satu fragmen tertentu mengklaim bahwa kalangan atau golongannya yang
paling benar dan bahkan kadang ada kecenderungan menyalahkan golongan yang lainnya.
Mereka berjalan dengan sendiri-sendiri dan semua
mengklaim melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Rumah belum ada yang sudah
menginginkan mengetrap-kan dan menjalankan aturannya, berlakukan Hukum Allah dan Syari’at Islam. Tembok belum ada sudah kepingin menghiasi
dengan mengecatnya, tunjukkan Akhlaqul
Karimah. Pondasi belum ada sudah menginginkan menegakkan tiang, amal ibadah yang pertama dilihat Allah
adalah shalat, shalat adalah tiang Agama. Dan ada yang bergumul dengan
membangun fondasi dan fondasi, aqidah,
syari’ah Islam belum perlu dijalankan.
Ada pula dari mereka yang ingin membangun Rumah sendiri dengan mengabaikan Sang
Mandor Sejati, pererat Ukuwah Islamiyah, bahkan tegakkan Daulah Islamiyah atau dirikan Negara Islam.
Yang jadi pertanyaan adalah: “Apakah mereka hakikatnya menjalankan
perintah Allah dan Rasul-Nya?” Ini adalah prinsip yang perlu dipahami
terlebih dulu, jangan-jangan mereka hanya-lah menuruti anggapannya belaka dan
memperturutkan kemauan hawa nafsunya sendiri, masih mending kalau selalu
mengikuti kata hati nurani. Berikut cuplikan firman Allah dalam Al-Qur’an.
“Kemudian
mereka (‘pengikut-pengikut’ Rasul itu) menjadikan Agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan.
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka
(masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.
(QS. 23:53-54)
Allah
seringkali di dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi
adalah pelajaran, dan mengharapkan hamba-hamba dapat mengambil Hikmah dari peristiwa
tersebut. Dan tidaklah dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang ber-Akal,
dan Nabi SAW juga bersabda dengan nuansa demikian, Jadi apakah mereka dapat dikatakan
ber-Akal? Jawablah sendiri karena yang paling tahu adalah dirinya sendiri.
“Allah
memberikan Hikmah kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi Hikmah,
sungguh telah diberi Kebajikan yang banyak. Dan tak ada
yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang ber-Akal.”
(QS. 2:269)
“Agama adalah Akal (‘Aql), tidak ada Agama bagi orang
yang tidak ber-Akal (menggunakan Akal).” (HR. An-Nasa’i)
Karena bangunan rumahnya tidak
jadi-jadi akhirnya mereka menderita kepanasan dan kehujanan, tidak ada yang
bisa dijadikan sebagai tempat bernaung yang menyejukkan yang memberikan Perlindungan.
Jadi salah siapakah ini semua terjadi. Jawabnya ya salah Allah, kenapa tidak mengirimkan
Sang Mandor Sejati? Lalu beranikah kita menyalahkan Allah, tentu saja sebagai
orang yang beriman tidaklah berani. Lalu bagaima-nakah mesti bersikap? Sikap
yang terbaik adalah introspeksi diri, sehingga tidak menyalahkan segala sesuatu
di luar diri sendiri.
“Katakanlah: “Dia yang ber-Kuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau
dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan
kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada
sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda Kebesaran Kami silih
berganti agar mereka memahami.” (QS.
6:65)
“Dan
demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman
bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. 6:129)
Karena semestinya yang mereka lakukan
dalam kondisi saat ini adalah senatiasa berdo’a memohon kepada Allah supaya
mengirimkan Sang Mandor Sejati, yaitu
Imam Al-Mahdi, yang bisa memecahkan semua masalah yang ada di dunia ini.
Sikap Mental Yang Mesti Dipersiapkan
Menegakkan dan mendhahirkan Agama
Allah adalah Tugas Rasul, sementara tugas dan kewajiban orang beriman semuanya
adalah mengikuti dan mendukung sepenuhnya Perjuangan Rasul tersebut dengan segenap
jiwa dan raga mereka.
“Dia-lah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia
memenangkannya (mendhahir-kannya)
di atas segala Agama-agama meskipun orang-orang
musyrik benci.” (QS. 61:9)
“Hai
orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (Agama) Allah sebagaimana Isa putera
Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan Agama)
Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu
berkata: “Kamilah penolong penolong Agama Allah!”,,,.” (QS.
61:14)
“Maka
tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku untuk (menegakkan Agama)
Allah.” Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia)
menjawab: “Kamilah penolong-penolong (Agama) Allah. Kami beriman kepada
Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
(QS. 3:52)
“Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang Rasul
dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan
Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. 3:164)
“Hai
orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri
di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.,,,.”
(QS. 4:59)
“Dan
Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seijin Allah.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu
memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. 4:64)
“Barangsiapa
yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia
telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang
berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara mereka.” (QS. 4:80)
Umat Mengharap Kedatangan Al-Mahdi
“Hari
ini kutunggu seorang lelaki yang akan pimpin pencinta Surga. Yang datang ke Bait
suci-Mu membawa jiwa yang gundah. Dalam ketakutan beratnya amanah Ia
lari ke madinah. Hindari bai’at
para ulama suci untuk jadi Khalifah. Nama-Mu
sama dengan nama Junjungan kami. Kehadiran-Mu
untuk memimpin umat yang kini dizalimi. Tegakkan
Kebenaran dan Keadilan
dibawah Panji-panji Ilahi. Tebar Keharuman
Cahaya-Nya bak bunga mekar sedang bersemi. Betapa Kedatangan-Mu
di tengah umat sekarang amat dirindukan. Mereka
telah letih hidup dalam Kezaliman dan
penghinaan. Rindukan masa kala bumi hidup dalam
rahmat TUHAN. Ketika
periode zaman yang penuh Pencerahan.
Kini, tiada lagi pemimpin perkasa bak Salahuddin. Yang
terhadap pertolongan Tentara Ilahi sangat yakin. Yang
mampu bebaskan penjajahan terhadap tanah Palestin. Dan Masjidil Aqsha pun kembali dalam
pangkuan Kaum Muslimin. Tiada gunanya hidup dalam Sistem
Liberal yang berlumur dusta. Yang sudah jelas tampak kelemahannya di depan mata. Ketidakadilan
dan penghisapan yang lemah jadi biasa. Sungguh
tentara Iblis kini pensiun pada dini usia. Datanglah wahai Al-Mahdi
membawa Panji Suci. Bawalah umat agar kembali ke bawah
naungan Ilahi. Antar manusia di bumi kelak akan lahir Perdamaian
Sejati. Sehingga
Segala Rahmat
dan Keberkatan-Nya akan tercurah lagi. Betapa kami rindu Pemimpin
Tauladan yang memegang amanah. Yang tidak sibuk menabur janji dan
menebarkan pesona. Yang selalu
berfikir jangan sampai rakyatnya merana. Dan
Ia pun takut pada pembalasan di Alam
sana. Dalam Kehinaan
Akhir Zaman
yang memilukan. Memohon
hamba dengan sungguh pada-Mu Tuhan (Muhammad) agar
Al-Mahdi sang Pemimpin akan segera didatangkan. Membawa
Rahmat serta Kedamaian
menjelang Akhir Zaman. Datanglah wahai TUHAN Ilahi
Pencipta Alam Semesta, Kehadiran-Mu dambaan kita semua.
“Ya
Rabb kami, utuslah untuk mereka (kami)
seorang Rasul dari kalangan mereka (kami),
yang akan membacakan kepada mereka (kami)
ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka (kami)
Al-Kitab (Al-Qur’an)
dan Hikmah serta mensucikan mereka (kami),,,.”
(QS. 2:129)
---oOo---
Menata
Kehidupan Dalam
Berbangsa
Dan Ber-Negara
Sudah saatnya para Spiritualis di bumi Nusantara ini mulai bersatu kembali dalam satu misi dan visi kehidupan. Segala pertikaian remeh temeh tentang materialisme-Spiritualistik harus diselesaikan sekarang juga. Tugas yang sangat penting tengah menanti, bukan sekedar tugas Prophetic, tetapi tugas yang benar-benar menyangkut keberlangsungan eksistensi seluruh spesies di tanah bekas Atlantis, di bumi yang indah ini. Tugas ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh satu dua orang Nabi atau Resi atau Buddha seperti pada masa lalu, tetapi oleh seluruh “manusia biasa” Nusantara. Semua orang harus terlibat di dalam tugas yang sangat penting ini, demi kehidupan bahagia yang menjadi tujuan.
Ya. Ketika terjadi ketegangan dan pertikaian yang serius dalam kehidupan, ketika sebentuk materialisme yang merasuk ke segala aspek kehidupan menikam hingga masuk ke dalam relung-relung hati manusia, maka kehadiran manifestasi Kebijaksanaan dan Kebenaran menjadi mendasar untuk menjaga keseimbangan. Lalu Yang Maha Agung akan menghadirkan kepada dunia sosok yang dipenuhi petunjuk dan bimbingan-Nya. Ia akan hadir di tengah-tengah kehidupan makhluk di Bumi, lalu mengajak mereka untuk meraih kesejahteraan dan Kedamaian Sejati. Sungguh, dialah yang kini disebut dengan istilah Avatar atau Maitreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi oleh sebagian kelompok manusia. Sosok pribadi yang akan menata dunia baru, di zaman yang baru. Lalu dengan petunjuk dan arahan-Nya, Dia akan menunjukkan bagaimana manusia bisa mencapai tingkatan hidup yang lebih Tinggi. Ia akan mencontohkan makna Cinta dan perilaku benar atau salah yang sesungguhnya. Karena masalah benar dan salah merupakan persoalan yang sangat penting dalam kehidupan ini. Dan Tuhan berkarya di sisi Kebenaran, sehingga Kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Sementara cinta dan Belas-Kasih jauh lebih kuat daripada kebencian dan kekerasan.
Lalu bersama pengikutnya, sosok terpilih ini dengan contoh teladan mereka, mereka akan mempengaruhi masyarakat yang mereka singgahi. Mereka menjadi hati nurani masyarakat. Kata-kata mereka bebas dan tidak memihak, visi dan misi mereka bersih dari aroma kepentingan. Meskipun berakar dari akar tradisi Agama, mereka tumbuh berkembang mengatasi Agama. Berkat pikiran yang bebas dan cara pandang yang Universal, mereka akan menempatkan diri sebagai penentang dari setiap kekuasaan yang korup dan kompromi sinis para penguasa yang tiran dan zalim. Kehidupan mereka yang mengatasi kehidupan sosial masyarakat merupakan kesaksian atas validitas nilai-nilai asali, sumber nilai-nilai sosial lain. Mereka adalah para bijak yang menjalankan kehidupan dengan rasa Cinta dan Kasih-Sayang. Mereka adalah para kesatria yang menegakkan Hukum Tuhan demi Keadilan dan kesejahteraan semuanya.
O.. Ketahuilah bahwa yang terberkati itu sudah hadir di dunia ini, di antara kita, tapi masih menyembunyikan dirinya. Ia telah di restui Langit dan bumi, karena dia adalah pribadi yang tercerahkan sepenuh-penuhnya, terberkati dan Mulia. Ia kaya akan Cinta, Kebijaksanaan dan Kebaikan. Ia berbahagia dengan pengetahuan tentang dunia-dunia dan dimensi-dimensi yang ada di dalam waktu. Semesta batinnya jauh melampaui siapapun. Ia adalah sosok panglima yang tak tertandingi dalam kemampuan Ilmu kanuragan, kadigdayan, kasepuhan, dan kasampurnan. Sifatnya penuh Kasih-Sayang dan senang membimbing manusia-manusia fana yang rentan dosa. Dia adalah Guru bagi para Dewa, manusia, Jin, peri, naga, hewan dan tumbuhan. Pemimpin yang terberkati dalam petunjuk Ilahi. Dia menyatakan Kebenaran, baik dalam kata maupun dalam perbuatan dan jiwa. Indah dalam awal mula, indah dalam proses perkembangan dan indah dalam Kesempurnaannya. Dia menunjukkan level kehidupan yang lebih Tinggi dalam seluruh Kemurnian dan Kesempurnaannya.
Sungguh, Sang Avatar atau Maitreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi ini mempunyai sejumlah fungsi dalam proses Kosmik. Saat ini ia pun sudah hadir di dunia ini, tapi belum sepenuhnya dikenali. Namun ia pasti akan menunjukkan bahwa kehidupan Spiritual dan kehidupan dunia itu tidak saling bertentangan. Jika kehidupan di dunia tak Sempurna dan dikendalikan oleh keinginan daging dan kejahatan, maka tugas sang terpilih dan kitalah untuk menyempurnakannya demi Kedamaian jiwa. Ia juga akan menunjukkan jalan yang bisa membawa manusia untuk melangkah keluar dari cara hidup kebinatangan menuju mode kehidupan Spiritual dengan memberikan keteladanan kehidupan ruhani. Ia juga akan menjelaskan bahwa Keilahian tidak ditampakkan dalam wujud inkarnasi, tapi dimediasi dengan sifat-sifat Mulia diri manusia. Karena dengan cara yang memikat, kehidupan siapapun akan menguraikan aspek-aspek pokok kehidupan manusia yang mengarah pada pemenuhan Jati-Diri yang Sejati.
Selain itu, dia tidak hanya mengajarkan ajaran Kebenaran yang akan melepaskan kita dari sikap mementingkan diri sendiri yang fana dan bersatu dengan Yang Abadi. Karena ia juga akan merelakan dirinya menjadi jalan rahmat bagi peradaban, karena ia akan menyatakan dirinya sebagai Jalan Kebenaran dan pengetahuan. Dengan mengundang jiwa-jiwa agar percaya dan mencintai Tuhan Yang Maha Perkasa, dia berjanji untuk membawa mereka pada pengetahuan tentang Yang Hakiki. Dia pun akan membantu siapapun untuk mencapai potensi terbesar yang dimiliki, dalam ilmiah ataupun batiniah.
Kehadiran sosok “Satrio Piningit” di Bumi Pertiwi ini, bukan tanpa tujuan atau tanpa misi, akan tetapi sudah barang tentu kehadirannya membawa amanat kehidupan, yang harus disampaikan dan dilaksanakan. Hal ini demi kelangsungan kehidupan di Bumi Pertiwi ini. Adapun visi misi yang diemban oleh sosok “Satrio Piningit” dapat dijelaskan, bahwa kehadiran-nya akan membawa suatu perubahan peradapan, sebagaimana visi misi Beliau yang Tinggi, yang diuraikan berikut ini:
Membenahi Peradaban Yang Hancur
Visi dan Misi yang pertama ini sudah tidak
bisa ditawar lagi dan merupakan prioritas yang harus diutamakan hal ini
dikarenakan keberhasilan Beliau dalam membenahi peradapan yang hancur akan
mempengaruhi dan ikut menentukan keberhasilan visi misi yang lain di bidang
yang akan dikerjakan dalam hal ini adalah: Membenahi peradapan antara manusia
yang satu dengan manusia yang lain baik itu antara manusia sebagai individu
maupun manusia yang kapasitasnya berkelompok atau golongan (umat ras atau
bangsa). Membenahi peradapan manusia dalam kaitannya dengan mahkluk yang lain
baik itu terhadap hewan maupun tumbuhan. Beliau juga akan menyatakan kehidupan
bathin pada kehidupan lahir, serta memperkenalkan kehidupan lahir ke bathin.
Membentuk Tatanan Kehidupan Yang Luhur
Sebagai mana mestinya barulah Beliau membuat
tatanan kehidupan kedepan yang mencakup tatanan berbangsa dan ber-Negara. Adapun tatanan kehidupan yang akan diterapkan oleh “Satrio
Piningit” yaitu:
1. Tatanan Pada Tingkat Bawah
Tatanan kehidupan yang dikehendaki oleh “Satrio
Piningit” berlandaskan tatanan yang Insun Rahayu Balarea Waluya yang
dimaksudkan dengan tatanan pada tingkat tersebut agar terciptanya kehidupan
rakyat, baik itu yang berupa keselamatan, Kebahagiaan atau Kemuliaan dalam kebersamaan. Pada tatanan di
tingkat bawah ini untuk mewujudkan terciptanya tatanan tersebut dibekali dengan
Ilmu (Jurus Dasar) jurus tentang solusi kehidupan sebagai senjata
pertahanannya.
2. Tatanan Tingkat Pemerintahan
Yang dimaksud dengan tingkat pemerintahan
adalah yang mana di tingkat ini membentuk tatanan “Sebanda Seriksa, Sebebot Sepihanean”. Sedangkan yang dikandung
dalam kata tersebut pada tingkat pemerintahan adalah ber-Keadilan yang menyeluruh dalam segi Kemanusiaan. Jadi pada tingkat Pamong Praja adalah
landasan tatanan yang digunakan adalah rasa Keadilan atas dasar sesuai dengan
proporsional. Apabila tatanan tersebut telah dilaksanakan maka akan tercapainya
kemakmuran atau sejenisnya dalam kehidupan masyarakat, sedangkan untuk
mendukung tercapainya tatanan kehidupan pada tingkat Pamong Praja dibekali
dengan Ilmunya yaitu jurus kasar.
3. Tatanan Kehidupan Tingkat Raja
Yang dimaksud tingkat Raja adalah tatanan
kehidupan para pemimpin yang belandaskan pada tatanan “Suwarga Maniloka”. Tatanan kehidupan ini akan dicapai dengan
sendirinya apabila tatanan di tingkat bawah (rakyat) telah terbentuk kemuliyaan
dalam kebersamaan. Hal ini juga tidak dapat dipisahkan tercapainya pada tingkat
“Pamong Praja” (pemerintah) yang ber-Keadilan menyeluruh bagi Kemanusian.
Disamping itu untuk mendukung tatanan tersebut ditingkat Raja maka para Raja atau Pemimpin akan dibekali dengan Ilmunya yaitu dengan jurus sasar atau persenyawaan empat unsur alam (Air, Api, Bumi/Tanah dan Angin). Dalam penerapannya Beliau menggunakan tipe pemerintahan Kerajaan dengan sistim mekanisme persemakmuran, terdapat adanya perdana menteri sebagai Raja (pemimpin) dalam masyarakat, serta seorang Raja sebagai perwakilan dari para bathin.
Itulah gambaran dari visi misi yang diemban
oleh sosok “Satrio Piningit” sebagai pemegang amanat kehidupan yang
harus dilaksanakan agar kehancuran peradapan dalam kehidupan bisa diselamatkan
sehingga bumi kita tercinta ini akan tetap lestari dan berseri. Sehingga
kelangsungan kehidupan di bumi ini akan tercapainya suatu masyarakat yang “Gemah
ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kertaning Raharjo” suatu tatanan
yang terdahulu pernah dicapai oleh para leluhur bangsa kita, yang mana tatanan
tersebut telah hilang ditelan jaman sehingga hilanglah pula akan Jati-Diri
bangsa. Dengan kehadiran dan kemunculan “Satrio Piningit” inilah maka
akan mengubah tatanan yang sekarang ini pada tatanan yang dahulu pernah ada
yang mengalami masa kejayaan dan keemasan dengan penyempurnakan. Namun atas
dasar itu lahirnya atau kemunculan “Satrio Piningit” dimuka bumi ini
adalah merupahkan Wakil dari yang mempunyai kehidupan (Tuhan) juga wakil dari
pengatur kehidupan (leluhur) dan wakil dari tempat kehidupan (Air, Api, Bumi
dan Angin) serta ditandai adanya tiga fase atau tahapan yang berupa simbol
kejadian kemunculan “Satrio Piningit”, antara lain:
· Simbol
Senopati, Senopati yang dimasudkan adalah munculnya kejadian
bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa, seperti gempa bumi, tsunami, tanah
longsor, banjir badang, angin topan, Gunung meletus dan lain lainya yang
mengakibatkan korban nyawa dan harta benda. Juga akan terjadinya goro-goro di
bumi ini sehingga hal tersebut mendorong sosok “Satrio Piningit” untuk
meredam dan menghentikan goro-goro dengan kata lain munculnya pahlawan
goro-goro.
· Simbol
Bojonegoro, Bojonegoro yang dimaksudkan adalah suatu tatanan yang
akan dijalankan untuk membuat masyarakatnya merasakan Aman, Damai dan Tentraman
(Sumber Kenikmatan
ber-Negara), masyarakatnya tidak merasakan ketakutan
lagi atas terjadinya bencana alam yang mengakibatnya korban jiwa karena
Senopati (simbol kejadian yang mengakibatkan kematian) sudah dihentikan oleh “Satrio
Piningit”.
· Simbol
Noto Negoro, Yang dimasudkan Noto Negoro adalah sebuah program
kelanjutan visi misi untuk menata Negara. Di fase inilah mulai bermunculan
Romo-romo (leluhur yang terdahulu) dan Beo-beo (binatang yang berbicara) untuk
menyampaikan pesan ke “Satrio Piningit”. Dukungan dari golongan leluhur dan Bintang inilah yang
juga ambil bagian peran dalam mewujudkan penataan Negara, dalam hal ini proses
keseimbangan dalam kehidupan antara manusia, leluhur dan binatang bisa menjaga
kelangsungan hidup. Karena tugas dari Satrio Piningit bukan hanya kepada
golongan dhohir saja tetapi juga dalam kehidupan bathin akan di-Sempurnakan.
Sungguh dalam hal ini kehadiran sosok “Satrio Piningit” dalam
rangka memenuhi panggilan kehidupan dan mengemban amanat kehidupan bukanlah
sekedar hanya panggilan tugas melainkan amanat kehidupan yang harus dijalankan.
Karena tanggung jawab dan kosekuensi yang sangat besar inilah Beliau “Satrio Piningit” telah
membekali Wakil-wakilnya (Ratu) yang nantinya bisa melaksanakan
tugasnya masing-masing.
Kehadirannya dimuka bumi ini tentunya dengan
membawa kekuatan Tuhan, kekuatan leluhur dan kekuatan 4 (empat) unsur alam,
baginya tugas yang Mulia tersebut tidak akan pernah gagal. Dikarenakan segala
sesuatu telah dimiliki seperti senjata yang menjadikan alat untuk memimpin.
Adapun kekuatan alam sebagai senjatanya antara lain:
·
Air
untuk mempermalukan atau menenggelamkan bagi yang memusuhinya
·
Api
untuk membasmi angkara murka atau membumi hanguskan
·
Bumi
untuk mengutuk musuhnya atau sebagai rantai pengikat musuh
·
Angin
sebagai pelindung atau sebagai perisai
Sudah tentu dan jelas kehadiran sosok Satrio
Piningit dimuka bumi ini tiada tertandingi dari berbagai sisi baik itu dari
sisi bela diri ala Ilmu sakti maupun dari sisi bela diri ber-Filosofi. Hal ini seperti lazimnya bahawa bela diri ala
Ilmu Sakti untuk mewakili orang yang ber-Ilmu sakti dengan keluhurannya, serta bela diri ber-Filosofi untuk mengalahkan orang yang berenergi materi tinggi.
Disamping itu kehadiran Beliau untuk
menyempurnakan Ilmu-ilmu yang telah ada yaitu ilmu yang bersifat menghancur-kan
penuh tipuan menjadikan Ilmu Kesempurnaan yang bermanfaat bagi kelangsungan
kehidupan. Demikian Bahasan mengenai sosok “Satrio Piningit” tentang Jati-Diri-nya,
gelar yang disandangnya serta tujuan visi misi yang diemban sebagai Wakil dari
Tuhan. Adapun referensi kajian-kajian yang telah dipaparkan oleh para Leluhur dalam tulisan berupa berupa karya warisan Leluhur dari kitab yang ada ataupun dalam tulisan prasasti
sebagai bekal penguat kita sebagai generasi muda yang dituntut untuk meneruskan
Cita-cita para Leluhur.
“Permisi kenangan masa lalu
Beri kami jalan kami
Kami hadir bawa inovasi
Jangan rintangi kami lagi
Hembusan transformasi budaya
Hembusan transformasi budaya
Dan deras ombak Globalisasi
Menghantam nurani paling dalam
Mendobrak satu birokrasi
(Kebodohan... Kemiskinan...)
Kami kekuatan...
Kami kekuatan...
Kekuatan masa mendatang
Format masa depan, Filter Globalisasi
Alih teknologi...
Kami orang muda... yang kaya akan obsesi
Mobilitas tinggi, Haus reformasi, Hakiki
Bangunlah jiwanya bangunlah raganya
Bangunlah jiwanya bangunlah raganya
Kami semua terpasung, terpasung tikus birokrasi
Jangan halangi kami
Siapa yang halangi pasti kan mati
Demi tegaknya Keadilan di Bumi Pertiwi
Semua warga pasti kan bahagia nanti
Sejahtera ruhani dan ragawi.”
---oOo---
Menjadikan Indonesia Republik Cinta
Mercusuar
Dunia
Republik Cinta terbangun manakala Keadilan, kesejahtera-an dan kedamaian sebagai prasyaratnya sudah memenuhi seluruh Bumi
Pertiwi, dalam Republik Cinta tidak ada syari’at ataupun metodologi baku yang
mengikat, yang terpenting semua bisa merasakan aku Cinta kamu semua, yang ada adalah melakukan segala sesuatunya dengan dan
atas nama Cinta. Dalam Republik Cinta yang ada hanyalah sudah, semuanya orang
dalam maqam Spiritual puas dalam qana’ah, yang ada hanyalah rasa syukur, hingga
jauh hati dari rasa kufur. Bathin selalu penuh akan makna, dan sikap bathin pun
akan Sempurna, selalu dalam keadaan diam samadi, atau jiwapun damai abadi.
“Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan
mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi-cinta
akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan Malaikat yang tahu siapa lebih
mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya
adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil
agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi semua seorang.”
Berhasil
meraih Cinta Suci Sejati, selama ini lelah kerja orang-orang yang berjasa
padaku karena karyanya kupinjam adalah lelahku juga, bahagianya bahagiaku juga.
“Lelahmu, jadi lelahku juga
Bahagiamu, bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu, kecuali tiap kau
jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku, membuktikan
padamu,
Ada cinta yang nyata, setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali, kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat, terkadang Malaikat tak
bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun Kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat, terkadang Malaikat tak
bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun Kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s’lalu bercanda, andai wajahku
diganti
Namun tak kau lihat, terkadang Malaikat tak
bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun Kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu, aku yang jadi juaranya.”
Aku
ingin menunjukkan rasa Cinta-Ku
ini, bagi siapa saja yang mau Ku-beri,
tak juga hanya itu saja, cinta-Ku ini untuk
semua, meskipun mereka mungkin menolaknya.
“Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa
Cinta yang Ku-pendam
Tak sempat Aku
nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Ijinkan Aku
membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan Aku
menyayangimu, Sayang-Ku
oh
Dengarkanlah isi hati-Ku, Cinta-Ku oh
Dengarkanlah isi hati-Ku
Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Ijinkan Aku
tetap menyayangimu
Sayang-Ku
oh
Dengarkanlah isi hati-Ku
Aku sayang padamu
Ijinkan Aku
membuktikan.”
“Ku tetap mencintaimu masih
Meski kau tak cinta Aku
Ku tetap merindukan
Meski kau tak pernah merasa sedikitpun
Untuk merindukan Aku
Cinta-Ku ini bukan cinta milik manusia biasa
Cinta-Ku ini cinta sejati yang paling
sejati
Ku tetap memaafkan salah mu
Meski kau terus sakiti
Ku tetap melelehkan seribu kata maaf
Yang selalu kaucapkan dari bibirmu yang manis
Cinta-Ku ini bukan cinta milik manusia biasa
Cinta-Ku ini cinta sejati yang paling sejati
Ku tetap mencintaimu masih meski kau tak cinta Ku
Ku tetap merindukan
Meski kau tak pernah merasa sedikitpun
Untuk merindukan diri-Ku merindukan Aku
Cinta-Ku ini bukan cinta milik manusia biasa
Cinta-Ku ini cinta sejati yang paling sejati.”
Aku
menyaksikan tangan-tangan kotor yang mengatur Negara, hingga kondisi
carut-marut dan banyak huru-hara, bahkan orang yang baik-hati pun tak bisa
berbuat banyak, karena kondisi masyarakat sudah terkoyak. Saling membunuh
banyak terjadi, entah berebut apa tak tahulah pasti. Katanya demi kuasa dan
nama, padahal itu semua jeratan dunia. Aku gelisah memikirkan ini semua,
bagaimana ini bisa terjadi, pada Negeri elok pesona, banyak orang berhati babi.
Pada siapa aku harus mengadu, tak seorangpun yang mau tahu. Aku teriakkan ini
semua pada Alam Raya di atas sana, Aku gelisah, aku gelisah, gelisah jiwa.
“Seringkali aku terjaga terusik dari tidurku
Sepertinya kudengar suara jeritan yang menyayat
Mungkin hanya mimpi yang tak punya makna,
Atau ini isyarat agar aku mulai bicara
Seringkali aku mencoba membenamkan kepalaku
Bersembunyi dari hiruk pikuk suara yang memilukan
Mungkin aku memang bodoh atau tak peduli
Percaya kegetiran tak selalu berbuah duka
Kusaksikan tangan kotor mulai mencengkeram
Tak ada siapa pun yang dapat mencegah
Orang-orang pandai hanya diam menonton,
Atau bahkan hanya saling menuding
Mulai kehilangan hasrat kemanusiaan,
Mulai kehilangan akal kebersamaan,
Mulai kehilangan rasa saling memiliki
Para pemimpin pun tak ada yang peduli
Mungkin aku memang bodoh atau tak peduli
Percaya kegetiran tak selalu berbuah duka
Kusaksikan tangan kotor mulai mencengkeram
Tak ada siapa pun yang dapat mencegah
Orang-orang pandai hanya diam menonton,
Atau bahkan hanya saling menuding
Mulai kehilangan hasrat kemanusiaan,
Mulai kehilangan akal kebersamaan,
Mulai kehilangan rasa saling memiliki
Para pemimpin pun tak ada yang peduli,
Ho ho ho ho ho.”
“Rembulan
menangis di serambi malam ho..
Intan
buah hatimu dicabik tangan-tangan serigala
Bintang-bintang
muram,beku dalam luka ho..
Untukmu
saudara-Ku Kami semua turut berduka
Lolong
burung malam di Rimba ho
Melengking
menyayat jiwa
Tangis
Kami pecah di batu
Duka
Kami remuk di dada
Do’a
Kami bersama-sama untukmu,
untukmu
Angin
pun menjerit badai bergemuruh ho..
Semuanya
marah hanya Iblis
terbahak, bersorak
Lolong
burung malam di Rimba ho
Melengking
menyayat jiwa
Tangis
Kami pecah di batu
Duka
Kami remuk di dada
Do’a
Kami bersama-sama untukmu
Lolong
burung malam di Rimba ho
Melengking
menyayat jiwa
Tangis
Kami pecah di batu
Duka
Kami remuk di dada
Do’a
Kami bersama-sama untukmu
Untukmu,
untukmu, untukmu, untukmu.”
“Anak muda di
ujung jalan
Petik gitar jilati malam
Mata merah hatinya berdarah
Sebab apa tiada yang mau tahu
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang
Aku gelisah
Orang tua di remang-remang
Cari teman hamburkan uang
Senyum ramah tak ada di rumah
Sebab apa tiada yang mau tau
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang
Aku gelisah
Gelisah jiwa bagai prahara
Orang muda, orang tua
Penuh amarah membabi buta
Gelisah hidup penjara dunia
Padang gelisah panas membara
Hutan gelisah membakar hidup
Gelisah Langit, muntahkan badai
Kebimbangan lahirkan gelisah
Jiwa gelisah bagai halilintar
Aku gelisah, aku gelisah,
Aku gelisah...
Orang-orang saling bertengkar
Untuk apa bukan soal lagi
Keserakahan sudah menjadi Nabi
Kekusaan adalah jalan keluar
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang,
Petik gitar jilati malam
Mata merah hatinya berdarah
Sebab apa tiada yang mau tahu
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang
Aku gelisah
Orang tua di remang-remang
Cari teman hamburkan uang
Senyum ramah tak ada di rumah
Sebab apa tiada yang mau tau
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang
Aku gelisah
Gelisah jiwa bagai prahara
Orang muda, orang tua
Penuh amarah membabi buta
Gelisah hidup penjara dunia
Padang gelisah panas membara
Hutan gelisah membakar hidup
Gelisah Langit, muntahkan badai
Kebimbangan lahirkan gelisah
Jiwa gelisah bagai halilintar
Aku gelisah, aku gelisah,
Aku gelisah...
Orang-orang saling bertengkar
Untuk apa bukan soal lagi
Keserakahan sudah menjadi Nabi
Kekusaan adalah jalan keluar
Pada kelelawar ia mengadu
Pada lampu-lampu jalan sandarkan angan
Pada nada-nada lontarkan marah
Pada Alam Raya ia berterus terang,
Gelisah, Aku amat sangat gelisah
Orang muda penuh luka
Terkoyak nasib, tertikam gelisah
Membalik hidup, menerkam nasib
Gelisah badai, gelisah tidur
Lingkaran gelisah, lingkaran Setan
Menggelinding datang dan pergi
Di ujung jalan membaca hidup
Adakah orang tidak gelisah
Aku amat sangat gelisah, Aku gelisah....”
Orang muda penuh luka
Terkoyak nasib, tertikam gelisah
Membalik hidup, menerkam nasib
Gelisah badai, gelisah tidur
Lingkaran gelisah, lingkaran Setan
Menggelinding datang dan pergi
Di ujung jalan membaca hidup
Adakah orang tidak gelisah
Aku amat sangat gelisah, Aku gelisah....”
“Jaman berubah perilaku tak
berubah
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah berubah-rubah
Gandhi yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Azhari
Lembaga berdiri berselimut korupsi
Wibawa menjadi alat melindungi diri
Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
Agama sebagai topeng yang menjijikkan
Kemiskinan merajalela yang kaya makin rakus saja
Hukum dan kesehatan diperjual belikan
Kesaksian tergusur oleh kepentingan ngawur
Pemerintah keasyikan berpolitik (ngawur)
Partai politik sibuk menuhankan uang (ngawur)
Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang
Televisi sibuk mencari iklan
Sementara banyak yang tunggu giliran
Rakyat dan sang jelata menatap dengan mata kosong
Dimana aku harus cari Keadilan Hakiki?
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah berubah-rubah
Gandhi yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Azhari
Lembaga berdiri berselimut korupsi
Wibawa menjadi alat melindungi diri
Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
Agama sebagai topeng yang menjijikkan
Kemiskinan merajalela yang kaya makin rakus saja
Hukum dan kesehatan diperjual belikan
Kesaksian tergusur oleh kepentingan ngawur
Pemerintah keasyikan berpolitik (ngawur)
Partai politik sibuk menuhankan uang (ngawur)
Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang
Televisi sibuk mencari iklan
Sementara banyak yang tunggu giliran
Rakyat dan sang jelata menatap dengan mata kosong
Dimana aku harus cari Keadilan Hakiki?
Dimana aku apa ditelan Tsunami.”
“Tak habis fikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh?
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama
Bagi kita rakyat biasa
Bagi kita rakyat biasa
Tak berdaya ditodong senjata
Mencuri hidup yang hanya sekali
Hanya berdo’a yang kita bisa
Dendam dendam celaka
Dendam dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya
Kapan berakhirnya situasi seperti ini?
Kapan berakhirnya situasi seperti ini?
Tidak bisakah kita saling berpelukan?
Bukankah indah hidup bersama
Bukankah indah hidup bersama
Saling berbagi saling menyinta
Terasa hangat sampai ke jiwa
Memancar ke penjuru dunia
Jangan goyah percayalah teman
Jangan goyah percayalah teman
Perang itu melawan diri sendiri
Selamat datang kemerdekaan
Kalau kita mampu menahan diri
Dendam dendam celaka
Dendam dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya
Kapan berakhirnya situasi seperti ini?
Kapan berakhirnya situasi seperti ini?
Tidak bisakah kita saling berpelukan?
Tak habis fikir aku tak mengerti,
Tak habis fikir aku tak mengerti,
Mengapa ada orang yang senang membunuh?
Hanya karena uang semata,
Atau demi kuasa dan nama
Hanya karena itu semua
Hanya karena itu semua
Rela hancurkan tanah tercinta
Rela hancurkan tanah tercinta.”
“Setiap waktu engkau
tersenyum
Sudut matamu
memancarkan rasa
Keresahan yang
terbenam
Kerinduan yang
tertahan
Duka dalam yang
tersembunyi
Jauh di lubuk hati
Kata katamu riuh
mengalir bagai gerimis
Seperti angin tak pernah diam
Seperti angin tak pernah diam
Selalu beranjak
setiap saat
Menebarkan jala
asmara
Menaburkan aroma luka
Benih kebencian kau
tanam
Bakar ladang gersang
Entah sampai kapan
berhenti menipu diri
Kupu kupu kertas
Kupu kupu kertas
Yang terbang kian
kemari
Aneka rupa dan warna
Dibias lampu temaram
Membasuh debu yang lekat dalam jiwa
Membasuh debu yang lekat dalam jiwa
Mencuci bersih dari
segala kekotoran
Aku menunggu hujan
turunlah
Aku mengharapkan
badai datanglah
Gemuruhnya akan
melumatkan semua
Kupu kupu kertas
Kupu kupu kertas
Yang terbang kian
kemari
Aneka rupa dan warna
Dibias lampu temaram
Kupu kupu kertas
Kupu kupu kertas
Yang terbang kian
kemari
Aneka rupa dan warna
Dibias lampu temaram
Kupu kupu kertas
Kupu kupu kertas
Yang terbang kian
kemari
Aneka rupa dan warna
Dibias lampu
temaram.”
“Awan hitam di hati yang sedang gelisah
Daun-daun berguguran satu satu jatuh ke pangkuan
Kutenggelam sudah ke dalam dekapan semusim yang lalu
Sebelum ku mencapai langkahku yang jauh
Kini semua bukan milikku musim itu telah berlalu,
Sebelum ku mencapai langkahku yang jauh
Kini semua bukan milikku musim itu telah berlalu,
Matahari segera berganti
Gelisah kumenanti tetes embun pagi
Gelisah kumenanti tetes embun pagi
Tak kuasa ku memandang dikau Matahari
Kini semua bukan milikku musim itu telah berlalu
Kini semua bukan milikku musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti
Badai pasti berlalu, badai pasti berlalu,
Badai pasti berlalu, badai pasti berlalu,
Badai pasti berlalu, badai pasti berlalu.”
“Seringkali aku tak mampu menangkap
Isyarat-Mu lewat cuaca
Matahari... ombak di Laut
Sering membisikkan yang bakal terjadi
Kadangkala aku memilih berdusta
Mengkhianati suara hati
Sesungguhnya kejujuran
Dapat menangkal semua mala petaka
Mari kita mencoba bersahabat dengan alam...
Bumi... Langit dan Matahari
Bahasa mereka kita pelajari
Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia
Tuhan menghendaki kita pelihara
Bumi beserta s’luruh isinya
Du du du du du du du du du du du du du
Untuk itu kita harus memahami
Du du du du du du du du du du du du du
Bahasa Matahari
Sesungguhnya aku tak mampu menjawab
Ketika anakku bertanya...
Kemanakah angin berhembus...
Seberapa banyakkah tempat berteduh?
Mari kita mencoba bersahabat dengan alam
Bumi... Langit dan Matahari
Bahasa mereka kita pelajari
Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia
Tuhan menghendaki kita pelihara
Bumi beserta s’luruh isinya
Untuk itu kita harus belajar
Bahasanya semak belukar
Du du du du du du du du du du du du du
Untuk itu kita harus memahami
Du du du du du du du du du du du du du
Bahasa Matahari.”
Isyarat-Mu lewat cuaca
Matahari... ombak di Laut
Sering membisikkan yang bakal terjadi
Kadangkala aku memilih berdusta
Mengkhianati suara hati
Sesungguhnya kejujuran
Dapat menangkal semua mala petaka
Mari kita mencoba bersahabat dengan alam...
Bumi... Langit dan Matahari
Bahasa mereka kita pelajari
Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia
Tuhan menghendaki kita pelihara
Bumi beserta s’luruh isinya
Du du du du du du du du du du du du du
Untuk itu kita harus memahami
Du du du du du du du du du du du du du
Bahasa Matahari
Sesungguhnya aku tak mampu menjawab
Ketika anakku bertanya...
Kemanakah angin berhembus...
Seberapa banyakkah tempat berteduh?
Mari kita mencoba bersahabat dengan alam
Bumi... Langit dan Matahari
Bahasa mereka kita pelajari
Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia
Tuhan menghendaki kita pelihara
Bumi beserta s’luruh isinya
Untuk itu kita harus belajar
Bahasanya semak belukar
Du du du du du du du du du du du du du
Untuk itu kita harus memahami
Du du du du du du du du du du du du du
Bahasa Matahari.”
“Apa kabar suara hati?
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati?
Tanpa kau sepi rasanya hati
Kabar buruk apa kabar baik?
Yang kau bawa mudah mudahan baik
Dengar dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Ku dengarkah orang orang yang menangis?
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakah sakitnya orang yang terlindas?
Oleh derap sepatu pembangunan
Kau lihatkah pembantaian?
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan?
Lalu apa yang akan kau suarakan?
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Jangan pergi lagi.”
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati?
Tanpa kau sepi rasanya hati
Kabar buruk apa kabar baik?
Yang kau bawa mudah mudahan baik
Dengar dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Ku dengarkah orang orang yang menangis?
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakah sakitnya orang yang terlindas?
Oleh derap sepatu pembangunan
Kau lihatkah pembantaian?
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan?
Lalu apa yang akan kau suarakan?
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi?
Suara hati jangan pergi lagi
Jangan pergi lagi.”
“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam bathin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugrah dan bencana adalah Kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya
Adalah Dia di atas segalanya
Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Agar kita mesti banyak berbenah diri
Memang bial kita kaji lebih jauh
DAlam Kekalutan masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista…oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang kita perbuat
Kemana lagi kita kan sembunyi
Hanya kepada-Nya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari hanya tunduk sujud pada-Nya
Hooo….hooo….hooo
Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum
Du…du…du…du…du…
Du…du…du…du…oh…
Du…du…du…du…
Berubahlah agar Dia tersenyum.”
Dunia politik adalah dunia Setan, menyebar intrik tuk
saling rebutan, katanya atas nama diri dan jabatan, inilah hasutan Setan. Satu
nusa satu saudara, menjadi terpecah tak ada cinta. Hidup dunia bagai Neraka,
karena politik yang jadi biangnya. Karena politik tali-Kasih terbelah, bisa
jadi kan tumpahkan darah. Maka dari itu tinggalkanlah saja, karena politik
tidak berguna. Sekali lagi tinggalkan dia tinggalkan saja, dengan bersatu-padu
kita kan jaya, dan kita wujudkan satu
nusa satu bangsa jadi satu keluarga.
“Dunia politik penuh dengan intrik
Cubit sana cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran
Kalau nggak nyubit nggak asik
Dunia politik penuh dengan intrik
Dunia politik penuh dengan intrik
Kilik sana kilik sini itu sudah wajar
Seperti orang adu jangkrik
Kalau nggak ngilik nggak asik
Rakyat nonton jadi supporter
Rakyat nonton jadi supporter
Kasih semangat jagoannya
Walau tau jagoannya ngibul
Walau tau dapur nggak ngebul
Dunia politik dunia binatang
Dunia politik dunia binatang
Dunia hura hura para binatang
Berjoget dengan asik
Dunia politik punya hukum sendiri
Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong-colongan
Seperti orang nyolong mangga
Kalau nggak nyolong nggak asik
Rakyat lugu kena getahnya
Rakyat lugu kena getahnya
Buah mangga entah kemana
Tinggal biji tinggal kulitnya
Tinggal mimpi ambil hikmahnya
Dunia politik dunia binatang
Dunia politik dunia binatang
Dunia pesta pora para binatang
Asik nggak asik
Dunia politik memang asik nggak asik
Dunia politik memang asik nggak asik
Kadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya)
Seperti orang main catur
Kalau nggak ngatur nggak asik
Pion bingung nggak bisa mundur
Pion bingung nggak bisa mundur
Pion-pion nggak mungkin kabur
Menteri, luncur, kuda dan benteng
Galaknya melebihi raja
Raja tenang gerak selangkah
Raja tenang gerak selangkah
Sambil menyematkan hadiah
Asik nggak asik, politik
Asik nggak asik, politik
Asik nggak asik, asik nggak asik.”
Asik nggak asik, politik
Asik nggak asik, politik
Asik nggak asik, asik nggak asik.”
“Dimana kebaikan, dimana Keadilan
Mengapa hanya kebohongan yang dihasilkan
Jujur telah kau larikan, alibi kau carikan
Kehormatan akan jabatan pun kau matikan
Demokrasi, rakyat memimpin, ataukah uang?
Semudah itu kau injak-injak darah pejuang
Tak kau buang peluang saat kau menjabat
Hatimu mengusir nurani rakus dan fikiran jahat
Terkontaminasi, engkau lemah pondasi
Kau masih lupakan rakyat yang lelah berorasi
Segeralah benahi diri dan tata seluruh Negeri
Sebelum kemarahan rakyat terprovokasi
Keadilan tertatih hampir mati
Sulit bergerak rakus harta menjerat diri
Mendengar Kebenaran kaupun
berdebar hati
Tak heran bila rakyat pun mulai menebar maki
Ku ingin aparat yang bisa jadikan panutan
Bukan salah pilih pilihan yang kau lakukan
Bukan asupan suapan yang melenakan
Kentalnya sengat bela bangsa
Dan bukan yang sudah-sudah terus terjadi
Yang sudah terluka luka terus dijerati
Masih tak berubah-ubah terus sesaki
Bebani pundak-pundak susah mendaki
Bangsa jadi mangsa pasar dan pangsa
Memotong Keadilan semena-mena
Serong ke kiri serong ke kanan
Beri ancaman beri tindakan beri tekanan
Bunyi sindiran bagai kebenaran yang menerkam
Kepenatan dan kegerahan bukti criminal rasa tak aman
Apabila sindiran dari ku kau
abaikan
Berarti ekpresi telah dimatikan kedhaliman.”
Keadilan hanya bisa
ditegakkan dengan landasan Cinta,
rasa adil buat semua, tidak semena-mena sesuka hati, yang jadikan saling benci
menjadi-jadi. Jabatan adalah perangkap Setan bagi mereka yang tak tahu diri,
buat hati dengki dan iri. Mari kita turun ke jalan bongkar Setan yang sedang
mengangkang. Orang bodoh bicara cinta, tak tahu makna tak tahu rasa, dengan
dalih atas nama Agama, putus tali-saudara silang-sengketa. Oh cinta, oh cinta,
dimanakah kau berada?, hanya orang ‘tahu’ yang bisa jawabnya.
“Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap Keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperbudak jabatan
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
Shabar, shabar, shabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan Setan yang berdiri mengangkang
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan,
hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidak-pastian dan
keserakahan
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar
Di jalan kami sandarkan cita-cita
Sebab di pemerintahan tak ada lagi yang bisa
dipercaya
Para pejabat pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
O,o,ya o … Ya o … Ya bongkar.”
“Orang bicara soal cinta
Dikata atas nama
Tuhannya
Saling bunuh dan
saling siksa
Atas dasar Keyakinan
yang ada
Air mengalir, angin
berhembus
Kan obati jiwa yang
tlah tandus
Heninglah fikir cinta
mengalir
Ke dalam hati yang
sering dzikir
Mata menetes alirkan darah
Mata menetes alirkan darah
Banyak korban telah
tumpah
Tradisi lenyap
dihisap marah
Tuhan, ya Tuhan atas namamu
Tuhan, ya Tuhan atas namamu
Selalu disebut meski
agak ragu
Cinta disebut, di
saat hidup,
Di pintu mati,
berakhir duka
Tuhan ya Tuhan, Tuhan
ya Tuhan
Cinta, Cinta,
Cinta, ya Cinta,
Di manakah engkau
berada.”
Ingin segera bertemu dengan Negeri yang penduduknya saling mencintai karena disanalah aku mendapatkan makna hidup yang sejati. Karena cinta adalah segalanya, cinta adalah pelita, tanpa cinta hatipun buta, karena itu hargailah cinta, karena ini anugrah TUHAN Sang Maha Pencipta.
“Aku sering merasa kesal serta bosan,
Menunggu Matahari bangkit dari tidur
Malam terasa panjang dan tak berarti,
Sementara mimpi membawa fikiran makin kusut
Maka wajar saja bila aku berteriak di tengah malam
Maka wajar saja bila aku berteriak di tengah malam
Itu hanya sekedar untuk mengurangi beban,
Yang memberat di kedua pundakku
Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu pagi,
Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu pagi,
Untuk kucanda dan kucumbu
Di situ kudapat cintaku
Aku sering merasa muak serta sedih,
Aku sering merasa muak serta sedih,
Bila setiap kali harus kusaksikan,
Wajah-wajah dusta masih tega tertawa,
Sementara korban merintih di kedua kakinya
Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu pagi,
Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu pagi,
Untuk kucanda dan kucumbu,
Di situ kudapat cintaku.”
Berjuang menyelamatkan
Ibu Pertiwi dilakukan dengan ikhlas sepenuh hati, semua dilakukan demi Langit
dan bumi. Tapak demi setapak tanah ditaklukkan jadikan Daulah
Mataram Sakti. Tak berhenti sampai disini saja, hingga terbentuk Daulah
Nusantara Sakti yang meliputi Asia Tenggara.
“Wajah yang selalu dilumuri senyum,
Legam tersengat terik Matahari
Keperkasaannya tak memudar,
Terbaca dari garis-garis di dagu
Waktu telah menggilas semuanya,
Ia tinggal punya jiwa
Pengorbanan yang tak sia-sia,
Untuk Negeri yang dicintai, dikasihi
Tangan dan kaki rela kau serahkan
Darah, keringat rela kau cucurkan
Bukan hanya untuk ukir namamu
Ikhlas demi Langit bumi,
Bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah
Wajah yang tak pernah mengeluh
Tegar dalam sikap Sempurna,
Pantang menyerah
Tangan dan kaki rela kau serahkan
Darah, keringat rela kau cucurkan
Bukan hanya untuk ukir namamu
Ikhlas demi Langit bumi
Bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah
Merah merdeka, putih merdeka, warna merdeka.”
“Ini
adalah Malam Pemberontakan
jiwa dan naluri Anak Manusia
yang ingin terbebas dari Dominasi Sistem
Dogmatis Undang-undang
Negara Jahanam. Ini
adalah hari Pembalasan Anak Manusia
yang di khianati dan dibohongi oleh Ayat-ayat
Iblis yang difimankan oleh Setan
yang bernama Tirani Kekuasaan. Ini
adalah waktu dimana darah harus mengalir dari sayatan Takdir
Kebencian. Ini
adalah waktu dimana kepala harus dipenggal oleh algojo angkara murka. Biarkan kuncup bunga mawar itu tumbuh
dan mekar di halaman sejarah yang disirami dari
Sungai yang mengalirkan darah. Biarkan bunga-bunga
itu tumbuh menjadi taman harapan menggantikan Batu Nisan
Penindasan dan Ketidak-adilan. Biarkan
harumnya meggantikan bau busuk Janji-janji basi
para Pelacur Kebijakan
yang saling menjilati kemaluan mereka masing-masing. Jadikan
Kebencian ini menjadi Cahaya
yang meluncur ke Langit dan menelan Kegelapan
Tatanan Moralitas
Sistem Jahiliah
Negeri Setan. Jadikan Amarah
ini anak panah yang akan menembus dan merobek-robek jantung Penguasa
yang telah memporakporanda-kan Peradaban
Intelektual Negeri
Pertiwi. Kawan..., nyanyikanlah
Lagu Perang
dari sya’ir-sya’ir Kebencian,
beritahu mereka arti sebuah Penindasan. Bacakanlah
Puisi Kematian
dari Bait-bait Amarah,
beritahu mereka arti sebuah Keserakahan. Tuliskanlah
narasi Penyiksaan dari rangkaian Episode
Angkara-murka,
beritahu mereka arti sebuah Pengkhianatan. Generasi
kita adalah Generasi
yang tak pantas jadi Pecundang. Jangan
biarkan Masa Depan
kita dikuasai Anjing-anjing
buduk Pengumbar Janji, Janji Palsu yang meninabobokkan. Jangan biarkan Masa
Depan kita dikuasai Iblis-iblis
terlaknat Pelacur
Demokrasi. Kibarkan
Bendera Perang..., tabuh
Genderang Perlawanan! Ayo maju semua Laskar Bawah Tanah, majulah dan robohkan dan habisi
Setan-setan yang berdiri mengangkang.”
Proses penyelamatan Negeri yang seperti mejik tiada duanya, yang seperti hanya Aku saja yang bisa.
Dalam kegelapan 3 hari 3 malam
dan suasana yang sangat mencekam, misi penyelamatan akan dipandu oleh
Cahaya keemasan, yang hanya bisa dilihat oleh mereka-mereka yang telah mencapai Ihsan.
“It’s a
kind of magic,
It’s a
kind of magic,
A kind
of magic,
One
dream, one soul, one prize,
One
goal, one golden glance of what should be,
It’s a
kind of magic,
One
flash of light that shows the way,
No
mortal man can win this day,
It’s a
kind of magic,
The
bell that rings inside your mind,
It’s a
challenging the doors of time,
The
waiting seems eternity,
The day
will dawn of sanity,
Is this
a kind of magic,
There
can be only one,
This
rage that lasts a thousand years,
Will
soon be gone,
This
flame that burns inside of me,
I’m
hearing secret harmonies,
It’s a
kind of magic,
The
bell that rings inside your mind,
Is
challenging the doors of time,
It’s a
kind of magic,
A
little bit of magic,
Give it
to me,
This
rage that lasts a thousand years,
Will
soon be will soon be,
Will
soon be gone,
This is
a kind of magic,
There
can only be one,
This
rage that lasts a thousand years,
Will
soon be gone,
A
little bit of magic,
Magic,
magic, magic, magic,
This
rage that lasts a thousand years,
Will
soon be will soon be,
Will
soon be gone.”
Memerintah dengan suara menggema di Langit, untuk menghentikan huru-hara yang berlangsung sengit.
Dalam redup cahaya yang kelam pekat sekali, bayang-bayang
berkelebat menakutkan hati, hingga semua huru-hara di Negeri pun terhenti.
“Ada
yang lempar-lemparan batu sambil saling getuk-getukan
Coba lihat siapa itu? pelajar ribut di jalanan
Coba lihat siapa itu? pelajar ribut di jalanan
Ada
yang bikin kerusuhan sambil teriak-teriak nggak puas
Coba lihat apaan itu? buruh ngamuk di jalanan
Coba lihat apaan itu? buruh ngamuk di jalanan
Ada
hiburan kumpul-kumpul emosi nggak tertahan
Coba terka apakah itu? massa histeris cari pelampiasan
Coba terka apakah itu? massa histeris cari pelampiasan
Ada
suara jerit-jeritan sia-sia banyak yang jadi korban
Coba lihat apa sih itu? aparat bentrok sama demonstran
Coba lihat apa sih itu? aparat bentrok sama demonstran
Ada
ribut-ribut dan kerusuhan di seluruh Negeri
Coba lihat
apaan itu?
Para
pengikut kontestan pemilu saling bentrokan
Tidak
puas akan hasil perhitungan
Anggota Dewan saling rebutan
Berebut posisi dan jabatan
Berdalih demi kepentingan rakyat
Padahal niat dan tindakannya amatlah bejat
Juga
saling bentrok tentara dengan polisi
Apakah
sebenarnya yang terjadi
Orang-orang
berlari-lari ke sana ke mari
Tak
tahu cara menyelamatkan diri
Huru-hara
seantero Negeri
Serasa
Neraka hidup di Bumi Pertiwi
Oo
anarki diri, oo anarki diri
Untuk
apa…..uu….yee!! Buat apa…..uu…yee!!
Mau
apa…..uu…yee!!!!”
“Sepasang
mata elang mengintai dari Langit,
Membakar-bakar
dan buka keriuhan
Entah
apa yang dimaui
Huru-harapun
semakin tak terkendali,
Merentak
di sana-sini
Semestinya
kita picingkan mata dan telinga,
Dan
bahu membahu mengusirnya
Ho ho …
hm … hu …
Sepasang
tangan kasar menjulur dari bumi,
Menghembus-hembuskan
suara memuakkan,
Memfitnah
di kanan-kiri
Huru-harapun
semakin tak terkendali,
Merentak
di sana-sini
Semestinya
kita picingkan mata dan telinga,
Dan
bahu membahu mengusirnya
Ho ho …
hm … hm … hm …
Du du
du du du du
Dengarlah
suara ghaib dalam dan berwibawa
Menyiram
sekujur kekacauan,
Meniupkan
kesegaran
Huru-harapun
seketika terhenti
Kedamaian
mulai bersemi
Seharusnya
kita dengar apa yang dikatakan
Barangkali
dialah yang benar
Ho ho
.. hu .. du du du du du du du hu hu … hm hm
Hu hu
huh u hu.”
“Setelah sekian lamanya huru-hara
Tuntutan demonstran ditebus nyawa
Gairah ekonomi yang hampir sirna
Usut tuntas
korupsi di Negeri kita
Bekali semua kerjanya wakil kita
Gerakan Demokrat menembus bara
Tunjukkan pilihanmu secara terbuka
Bebaskan demokrasi Negeri kita
Memang sudah tiba waktunya
Kejujuran di Negeri kita
Mari kita sambut datangnya
Ratu Adil di Nusantara
Ratu Adil di Nusantara
Kembalikan senyummu wahai bangsa
Keramahan yang dulu selalu ada
Selalu paham kita akan semua maknanya
Bila dalam hidup saling menjaga
Memang sudah tiba waktunya
Kejujuran di Negerikita
Mari kita sambut datangnya
Ratu Adil di Nusantara
Ratu Adil di Nusantara
Memang sudah tiba waktunya
Kejujuran di Negeri kita
Mari kita sambut datangnya
Ratu Adil di Nusantara
Ratu Adil di Nusantara.”
“Jangan coba bicara, mari kita renungkan
Di dalam sepiku kau diam
Terkubur di batas Langit, tersapu debu jalanan
Semua duka kita tinggalkan
Dengar aku bernyanyi, kupersembahkan bagimu pasti
Dengar aku bernyanyi, kupersembahkan bagimu pasti
Ikrarkan kita tak lagi bertengkar lagi
Pegang erat tanganku dan jangan lepaskan
Ikatkan benang Kasih-Sayang
Nampaknya mendung segera lewat, Matahari kan ber-Sinar
Nampaknya mendung segera lewat, Matahari kan ber-Sinar
Semuanya telah dirancang untuk menyambut kita
Tersenyumlah, mari tersenyum
Hari ini milik kita
Du du du du du hm....
Du du du du du hm....
Hm hm hm hm hu...
Jangan paksa menangis, mari kita fikirkan
Jangan paksa menangis, mari kita fikirkan
Sejarah usang kita buang
Senandungkan satu lagu, agar semua kembang mekar
Harumkan jiwa cinta kita
Dengar aku bernyanyi, kupersembahkan bagimu pasti
Dengar aku bernyanyi, kupersembahkan bagimu pasti
Ikrarkan kita tak lagi bertengkar lagi
Pegang erat tanganku dan jangan lepaskan
Ikatkan benang Kasih-Sayang
Nampaknya mendung segera lewat, Matahari kan ber-Sinar
Nampaknya mendung segera lewat, Matahari kan ber-Sinar
Semuanya telah dirancang untuk menyambut kita
Tersenyumlah, mari tersenyum
Hari ini milik kita
Du du du du du hu... hm.... hu...
Du du du du du du.”
“Jala api, lidahnya terjulur menyengat wajah bumi
Awan terbakar, Langit berlubang menganga,
Menyeringai bagaikan terluka
Pohon-pohon terkapar letih tanpa daya
Mata air terengah-engah, dahaga
Burung-burung hanya basa-basi berkicau
Lapisan Jagat terkelupas
Semua karena ulah kita
Warisan untuk anak cucu nanti ho ho ho ho
Jala api, lidahnya berkelit saat ingin kutangkap
Jala api, lidahnya berkelit saat ingin kutangkap
Terlampau naif angan-angan yang kurajut,
Untuk menyelamatkan dunia
Setiap detik ingin kutanam pepohonan
Mata air kuluahi embun Surgawi
Burung-burung kuajari bernyanyi-nyanyi
Kuhapus semua mimpi buruk dan mekarlah bunga-bunga
Masa depan buat mereka ho ho
Bila Matahari bangkit dari tiduraku mulai berfikir,
Bila Matahari bangkit dari tiduraku mulai berfikir,
Bagaimanakah caranya
Bila Sinar rembulan mulai merah menyala?
Aku masih berharap Kearifan Yang Kuasa
Bila Matahari bangkit dari tidur aku mulai berfikir,
Bila Matahari bangkit dari tidur aku mulai berfikir,
Bagaimanakah caranya hu hu
Bila Sinar rembulan mulai merah menyala?
Aku masih berharap Kearifan Yang Kuasa
Dari jendela kamarku dapat aku dengar
Gemercik suara air kali yang tak pernah berhenti
Jangan sampai terhenti biarpun Langit terluka.”
“Simaklah laguku ini, tentang sebuah bencana,
Tragedy
umat manusia, terjadi lagi, terjadi lagi,
Alampun
telah bersaksi atas tingkah laku kita,
Tuhanpun
telah menyapa memperingati, memperingati,
Ini
bukan sandiwara, ini bukan dalam mimpi,
Ini
bukan sandiwara, ini bukan dalam mimpi,
Ini
kenyataan mari kita renungi,
Ini
bukan dalam mimpi, ini kenyataan mari kita renungi,
Demi
keselamatan kita bersama,
Mari
kita berdo’a pada yang Maha Kuasa,
Berjanji
kembali, berjanji kembali ke jalan Ilahi,
Ke
jalan Ilahi, jalan Tuhan adalah jalan mengasihi,
Inilah
jalan untuk meraih Cinta Sejati.”
Penataan
Negara pun dimulai, dan ini semua demi kesejahteraan seluruh
rakyat di seluruh Negeri ini, turunkan harga-harga
yang melambung tinggi, sebagai langkah yang mengawali, seluruh sendi
pemerintahan ditata ulang dan disederhanakan, prinsip efektif dan
efisien diberlakukan
di seluruh tatanan. Sistem ekonomi sederhana dan sehat,
pemborosan sumber daya pun bisa dihemat. Peluang kerja lebar terbuka, hingga
semua warga dapat bekerja dan berkarya nyata.
“Perihnya masih terasa, sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa, sungguh mahal ongkosnya
Apapun yang kan terjadi, aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi, tak kan pernah terjadi
Air mata darah telah tumpah, demi ambisi membangun Negeri
Kalaulah ini pengorbanan, tentu bukan milik segelintir
orang
Belum cukupkah semua ini, apakah tidak berarti
Lihatlah wajah Ibu Pertiwi, pucat letih dan sedihnya
berkarat
Berdo’a terus berdo’a, hingga mulutnya berbusa-busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu Pertiwi hilang tawanya
Tak percaya masih ada cinta
Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan di hati
Untukmu Negeri, yang telah memberi arti
Untukmu Negeri, yang telah melukai Ibu kami
Untukmu Negeri, yang telah merampas anak kami
Untukmu Negeri, yang telah memperkosa saudara kami
Untukmu Negeri, waspadalah
Untukmu Negeri, bangkitlah
Untukmu Negeri, bersatulah
Untukmu Negeri, sejahteralah kamu Negeriku
Sejahteralah kamu wahai Negeri.”
“Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan Hukum setegak tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan Hukum setegak tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini.”
“Kalau orang miskin tak boleh pandai
Kalau orang miskin tak boleh bahagia
Kalau orang kaya tak mau berbagi
Kalau orang kaya tak mau berderma
Tentu keserakahan makin menjadi
Tentu keserakahan meraja lela
Aku bingung kenapa ini terjadi
Di Negeri yang subur dan kaya
Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau air mata
Katanya serpihan Surga
Nyatanya oh ..
Keluh-kesah tak selesaikan masalah
Malah membuat hati bertambah gundah
Kenyataan ini ada di depan mata
Kemana kau pergi terbawa mimpi
Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau air mata
Katanya serpihan Surga
Nyatanya oh ..
Stop mengeluh ayo singsingkan lengan
Bahu-membahu saling membantu
Jutaan manusia menunggu senyum tulusmu
Memang tak mudah, bukan tak bisa
Hei hei hei hei Indonesia
Cukuplah sudah keluh-kesah itu
Jangan tumpah lagi air matamu
Kalaupun tumpah mata bahagia
Karena bangga menjadi warga
Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau air mata
Katanya serpihan Surga
Nyatanya ooooh...
Katanya zamrud khatulistiwa
Katanya serpihan Surga.”
“Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati
Air matamu berlinang mas intanmu terkenang
Hutan Gunung sawah Lautan simpanan kekayaan
Hutan Gunung sawah Lautan simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara
merintih dan berdo’a
Kulihat Ibu Pertiwi kami datang berbhakti
Kulihat Ibu Pertiwi kami datang berbhakti
Lihatlah putra-putrimu menggembirakan Ibu
Ibu kami tetap cinta putramu yang setia
Ibu kami tetap cinta putramu yang setia
Menjaga harta pusaka untuk nusa dan bangsa
Mewujudkan
tata kelola Negara yang baru
Yang
adil, tertib dan teratur
Agar
dapat mensejahterakan semua warga Negara.”
Mewujudkan
tata kelola Negara yang baru yang Adil,
tertib teratur dan agar dapat mewujudkan Kedamaian
dan mensejahterakan semua warga Negara sebagai rakyatnya.
“Negara harus bebaskan biaya pendidikan
Negara harus bebaskan biaya kesehatan
Negara harus ciptakan pekerjaan
Negara harus adil tidak memihak
Itulah tugas Negara
Itulah tugas Negara
Itulah gunanya Negara
Itulah artinya Negara
Tempat kita bersandar dan berharap
Kenapa tidak? Orang kita kaya raya
Kenapa tidak? Orang kita kaya raya
Baik alamnya,
Maupun manusianya
Dan ini yang kita pelajari sejak bayi
Dan ini yang kita pelajari sejak bayi
Hanya saja kita tak pandai mengolahnya
Oleh karena itu bebaskan biaya pendidikan
Oleh karena itu bebaskan biaya pendidikan
Biar kita pandai mengarungi Samudera hidup
Biar kita tak mudah dibodohi dan ditipu
Oleh karena itu biarkan kami sehat
Agar mampu menjaga kedaulatan tanah air ini
Negara, Negara, Negara harus seperti itu
Negara, Negara, Negara harus seperti itu
Bukan hanya di Surga di duniapun bisa
Negara, Negara, Negara harus begitu
Negara, Negara, Negara harus begitu
Kalau tidak bubarkan saja
Atau ku adukan pada sang sepi
Negara harus berikan rasa aman
Negara harus berikan rasa aman
Negara harus hormati setiap Keyakinan
Negara harus bersahabat dengan alam
Negara harus menghargai kebebasan
Itulah tugas Negara,
Itulah tugas Negara,
Itulah gunanya Negara,
Itulah artinya Negara
Tempat kita bersandar, dan
berharap selain Tuhan.”
Wahai pemuda-pemudi Indonesia bangunlah. Singsingkan
lengan bajumu untuk Negara. Masa depan yang akan datang kewajiban-mulah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, menjadi tanggung-anmu terhadap nusa. Peduli dan tetap berusaha jujur dan ikhlas, tak usah banyak
bicara terus kerja keras. Hati teguh dan lurus fikir tetap jernih, bertingkah
laku halus hai putra negri, bertingkah laku halus hai putra negri.
“Hello teman semua
ayo kita sambut,
Hari baru telah tiba apa yang kurasakan,
Ku ingin engkau tahu dan berbagi bersama
Buka kita buka hari yang baru,
Sebagai semangat langkah ke depan,
Jadi pribadi baru,
Buka kita buka jalan yang baru,
Tebarkan senyum wajah gembira,
Damai suasana baru,
Bukalah bukalah semangat baru,
Bukalah bukalah semangat baru,
Bukalah bukalah semangat baru
Coba diam walau hanya tuk sejenak,
Dengarkan kata dari segala yang ku ucap,
Ku jelang pagi ini nikmati damai di hati,
Dalam waktu penuh arti karena aku dicintai,
Ku ingat kemarin suasana tak bersemangat,
Namun kini ku jalani dan semua rasanya tepat,
Bersama kita wujudkan harapan,
Membuka jalan menggapai tujuan
Mentari ber-Sinar... selalu,
Ini yang ku minta penuh semangat tertawa,
Bersamamu teman semua,
Kar’na ini saatnya kita nyanyi bersama
Buka, kita buka hari yang baru,
Semangat baru langkah ke depan,
Jadi pribadi baru penuh harapan
Buka, kita buka jalan yang baru,
Tebarkan senyum wajah gembira,
Damai suasana damai di hati
Dengarkan kata hati, pastikan pilihanmu,
Esok Mentari kan datang, bawa sejuta harapan
Kita jumpa di sana, berbagi bersama,
Dan kita tahu, pelangi yang satukan kita
Buka, kita buka hari yang baru,
Semangat baru langkah ke depan,
Jadi pribadi baru penuh harapan
Buka, kita buka jalan yang baru
Tebarkan senyum wajah gembira,
Damai suasana damai di hati
Bukalah, bukalah semangat baru
Bukalah, bukalah semangat baru.”
“Tatap
tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
Pegang teguhlah Kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya Keadilan
Bangkitlah Negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Bangkitlah Negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Selama Matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah Negeriku jayalah!”
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
Pegang teguhlah Kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya Keadilan
Bangkitlah Negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Bangkitlah Negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Selama Matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah Negeriku jayalah!”
“Begitu banyak yang ada di hati menanti terkuak
Untuk mengungkapkan dan mencurahkan,
Berbagai rasa dan kesan tentang kehidupan
Begitu sarat yang ada di benak menunggu tersirat
Begitu sarat yang ada di benak menunggu tersirat
Ada segala cara dan berbagai jalan,
Untuk mewujudkan hasrat khayalan jadi kenyataan
Ke dalam cipta dan karya nyata untuk nusa dan bangsa
Ini adalah tempat kita insan dunia ekspresikan diri
Begitu sarat hal yang mungkin dan dapat kita perbuat,
Begitu sarat hal yang mungkin dan dapat kita perbuat,
Untuk berbagi rasa berbagi suka dengan cara yang Mulia
Wujudkan semua harapan ke dalam cipta dan karya,
Untuk nusa dan bangsa tercinta, Indonesia Raya.”
Satu rasa
yang sama, satu tujuan yang sama dalam
bentuk sebuah komunitas yang bernama SIGi, Sahabat Indonesia berbaGi. Satu
persatu berkumpul dan bertemu menghimpun tujuan yang sama, satu yaitu berbagi.
Satu kesatuan yang utuh dan menguatkan . Ada satu hal yang bisa menghancurkan tujuan
bersama itu, bahkan dalam sekejab, hitungan detikpun tak mampu mengelakan jika
itu terjadi yaitu egoisme dalam diri. Itulah yang mampu menghancurkan ‘satu
tujuan’, tak perlu menghiraukan apa
kesalahan orang lain, jika kita masih mempunyai tujuan yang sama. Satu hal yang
harus ditanamkan ‘kita manusia biasa yang tidak bisa menjadi Sempurna dalam
penilaian setiap orang’, ‘kita manusia biasa yang harus bisa terus memperbaiki
diri untuk menjadi lebih baik’. Tekan ego dalam-dalam, kalau perlu kubur sekalian,
kembalikan satu tujuan itu yaitu ‘berbaGi’, dengan
satu wadah yang masih utuh dalam ‘SIGi’. SIGi yang ada saat ini hanya sebuah
nama bukan hal yang berarti tanpa pergerakan di dalamnya. SIGi yang ada saat ini tidak akan tumbuh menjadi baik jika di dalamnya masih
tersimpan ‘ego’. Hai sobat, apa tujuanmu datang ke SIGi? Untuk berbagi-kah?
atau hanya untuk mengumbar ego? Jika kita masih sejalan dengan tujuan yang
sama, kenapa kau tak membuang si ego? Ego ada hanya akan menghancurkan, bukan
menguatkan, ego ada untuk menguji, seberapa
besar rasa berbagi itu tumbuh dalam diri. Seberapa kuat kita memeliharanya
untuk hal yang lebih baik? Selamat tinggal ‘ego’, Selamat datang nurani dengan ‘satu tujuan yang utuh dan murni’.
“Indonesia kami lahir untukmu dan mengabdi bagimu
Bersatu untuk membangun Negeri tercinta
Maju, majulah Indonesiaku
Bersatulah kita semua kita kan jaya
Saling lengkapi dalam perbedaan
Bersatu membela merah putih tercinta
Bangkit dan buktikan kita kan jadi yang terdepan.”
“Biar saja ku tak sehebat Matahari
Tapi selalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi selalu ku coba tuk melindungimu
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi selalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok Langit sore
Tapi selalu kucoba tuk mengindahkanmu
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku
Merah putih teruslah kau berkibar
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku akan selalu menjagamu
Oooh… oohh…”
Oooh… oohh…”
Cinta itu dinyatakan dalam tindakan, dan
dialami sebagai perasaan. Namun cinta memiliki esensi yang tak bisa dikatakan, akan
tetapi di dalam Cinta terkandung Kasih-Sayang, toleransi, daya tahan, dukungan, keteguhan, tekad dan
masih banyak lagi, yang pada intinya Cinta Sejati untuk hanya untuk dibagi. Cinta menggapai romansa
luar dan memeluk kita di semua bidang kehidupan, pada akhirnya bikin jiwa
menjadi mapan. Hati telah lama gersang dari siraman Kasih suci, inilah yang
mestinya selalu kita cari. Bukan cari keluar tapi cari dalam diri, karena cinta
suci cinta Ilahi, Tuhan yang ada di dalam hati. Karena hujan iman sudah lama
tidak turun lagi, mari tanam kembali budi penyiram Kasih suci, agar hati yang
gersang gembur dan subur lagi, dan cinta suci kembali bersemi. Marilah kita
jalinkan Kasih-Sayang sesama kita yang telah lama hilang. Kita siram kembali
dengan air iman yang suci, dengan menabur budi kepada semua manusia, inilah
Jalan Kembali pulang, kepada Tuhan Yang Maha Wenang. Bila hati gembur dan subur
semua benih mahmudah akan subur kembali, yang kan berdaun dan berbunga, memberi manfaat kepada kita semua. Jangan
kita biarkan hati ini gersang dari Kasih-Sayang,
karena kita akan terombang ambing dengan gampang. Pangkat dan kekayaan tiada
arti, bila Kasih-Sayang tak dimiliki. Ber-Kasih-Sayang perintah Tuhan, sudah selayaknya kita
pertahankan. Tuhan sangat sayang kepada hamba yang saling ber-Kasih-Sayang, karena sifat Dia yang Maha Pengasih. Hati
sudah lama derita karena kosong dan hampa, jangan biarkan berlama-lama. Sudah
lama manusia hidup dalam derita lagi sengsara, ayo kita suburkan kembali Kasih sesama kita, agar
dunia menjadi seindah Surga. Bila kau hidup dengan sesama mengasihi, engkau kan
dapat Kasih Sejati,
dan kan bahagia sampai kau mati. Bila kau menanam duri, tak mungkin kau menuai
anggur, ingin dapatkan cinta suci sejati buaknlah keinginan yang mengelantur. Kasih itu lemah-lembut dan
indah, jauhkan diri bermegah-megah, muncul dalam hati bukanlah raga, karena
Kasih adalah jiwa. Dunia ini akan lenyap, namun Kasih Sejati akan tinggal tetap. Mari kita saling mengasihi,
sebab Tuhan itu Sang Maha Kasih Suci.
“Pernahkah engkau coba menerka
Apa yang tersembunyi di sudut hati?
Derita di mata, derita dalam jiwa,
Kenapa tak engkau pedulikan?
Sepasang kepodang terbang melambung
Sepasang kepodang terbang melambung
Menukik bawa seberkas pelangi
Gelora cinta, gelora dalam dada,
Kenapa tak pernah engkau hiraukan?
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu untuk saling membuka diri,
Sejauh batas pengertian
Pintu tersibak, cinta mengalir sebening embun
Kasih pun deras mengalir cemerlang sebening embun
du du du du du du du du du du hu
du du du du du du du du du du hu
Pernahkah engkau coba membaca,
Sorot mata dalam menyimpan rindu?
Sejuta impian, sejuta harapan,
Kenapakah mesti engkau abaikan?
Selama musim belum bergulir
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu untuk saling membuka diri,
Sejauh batas pengertian
Pintu tersibak, cinta mengalir sebening embun
Kasih pun mulai deras mengalir,
Kasih pun mulai deras mengalir,
Cemerlang sebening embun
Selama musim belum bergulir
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu untuk saling membuka diri,
Sejauh batas pengertian
Pintu tersibak, cinta mengalir sebening embun
Ho ho hu hu hu hu hu hudu du du du.”
“Jangan berkata tidak bila kau jatuh cinta
Terus terang sajalah buat apa berdusta
Cinta itu anugrah maka berbahagialah
Sebab kita sengsara bila tak punya cinta
Rintangan pasti datang menghadang
Cobaan pasti datang menghunjam
Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu
Mengeri akan arti kehidupan
Marilah sayang mari sirami
Cinta yang tumbuh di dalam diri
Marilah sayang mari sirami,
Agar merekah sepanjang hari.”
Kita bersahabat, kita bersaudara, kita satu
ras spesies manusia. Dari sepasangan insan, Adam dan Hawa, insan berasal. Memiliki
persamaan yang prinsipil dan asasi. Kita semula satu rumah, Surga-Nya. Turun ke
bumi, cucu Adam harus menempati wilayah demi dinamisasi diri dan alam. Tuhan
Kuasa merancang dan memposisikan kita seragam. Variasi ras dan Bahasa, itu
tanda Tuhan Kuasa, untuk kita saling menyapa. Untuk menegakkan persahabatan
yang egalitarian, yang dibutuhkan bukan elitisme dan eksklusifisme, tapi
inklusif.
Kita adalah saudara dari rahim Ibu Pertiwi.
Ditempa oleh gelombang dibesarkan jaman di bawah tiang bendera. Dulu kita bisa
bersama dari cerita yang ada, kita bisa saling percaya,
yakin dalam melangkah lewati badai sejarah. Pada tanah yang sama kita berdiri, Pada air yang sama kita berjanji. Karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama usahlah berpencar. Indonesia, Indonesia, Indonesia. Mari kita renungkan, lalu kita bertanya, benarkah kita manusia, benarkah kita ber-Tuhan, katakan aku Cinta kamu semua. Pada tanah yang sama kita berdiri, pada air yang sama kita berjanji. Karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama usahlah berpencar. Indonesia, Indonesia, Indonesia bersatulah.
yakin dalam melangkah lewati badai sejarah. Pada tanah yang sama kita berdiri, Pada air yang sama kita berjanji. Karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama usahlah berpencar. Indonesia, Indonesia, Indonesia. Mari kita renungkan, lalu kita bertanya, benarkah kita manusia, benarkah kita ber-Tuhan, katakan aku Cinta kamu semua. Pada tanah yang sama kita berdiri, pada air yang sama kita berjanji. Karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama usahlah berpencar. Indonesia, Indonesia, Indonesia bersatulah.
Putih dan hitam, merah, putih dan loreng,
mari akur saja. Kerukunan sungguh indah, damai itu indah. Ia kata nan indah
dalam kamus mana pun. Persahabatan yang tulus akan memotong kesedihan menjadi
separuh dan melipatduakan kesenangan. Jika kita berjumpa dengan saudara kita
yang pelit senyuman, tebarkan sebuah senyuman. Senyuman sama dalam Bahasa mana
pun. Dunia akan lebih cerah bila dilihat dari balik senyuman. Kita kaya dengan
membagi, bukan menerima, juga murah senyuman. Persahabatan dan nasionalisme
adalah kemampuan elit dan rakyat memberi lebih dari apa yang diminta. Tragedi
hidup yang terbesar, bukan binasanya manusia, tapi hilangnya gairah mencin-tai
dan menyapa.
Sungguh lengkaplan Aceh tanah pusaka, dengan
Suku Aceh, Aneuk Jamee, Alas, Batak, Pakpak, Devayan, Gayo, Haloban, Kluet,
Lekon, Singkil, Sigulai, Tamiang, dan lainnya. Sempurnalah Indonesia dengan
membiarkan, dengan mengangkat sebagai pembantu dari Barat dan Timur dengan
tipologi yang unik itu. Tidak semarak Nusantara andai dibiarkan mati masyarakat
Aceh, Melayu, Batak, Nias, Tanjung, Minang, Kubu, Betawi, Sunda, Karimun, Jawa,
Madura, Dayak, Minahasa, Banjar, Bugis, Papua Melanesia,
Bali, Bima dan seterusnya. Jadi memilih wakil sesuku itu ada lemahnya, tidak
ramai, tidak meriah.
Orang Aceh di Indonesia, Indian di Amerika,
Aborigin di Australia, Arab di Gurun Sahara, Aria di Jerman, Mongol di China, Melayu di Asia, Negro di Afrika, atau Anglo-Saxon di
Eropa mesti sama-sama hidup. Dari sekte kecil dan besar, dari ajaran Langit dan
bumi, dari multiteis (politheis),
Buddha, Hindu, Zoroaster, Majusi, Shinto, Yahudi, Kristen, dan yang monoteis
dalam Islam, berusaha memeriahkan dunia yang sempit ini, dengan keragaman
kepiawaiannya.
Manakala satu jiwa dibunuh tanpa alasan, maka
sama dengan menghabiskan semua manusia di bumi. Juga menye-lamatkan satu sosok
insan di bumi yang ringkih ini sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Jadi
pembunuhan, penjajahan, dan rasialis bukan ajaran Langit. Jadi, sukuisme elite
akan melemahkan nasionalisme kita.
“I wonder why you and me fight each other
Don’t you see the similarities between us?
Take a minute and see yourself in the mirror
You look like me: those eyes, lips - you can’t deny
Have you thought about why we look the same?
Have you thought about why we look the same?
Why we feel the same?Don’t tell me it’s by chance
Oh, you’re my brother, you’re my sister
Oh, you’re my brother, you’re my sister
We’re one big family,
Oh, you’re my brother, you’re my sister
Just one big family
It doesn’t matter if you live far away from me
It doesn’t matter if you live far away from me
You feel I feel, you bleed I bleed, you cry and I cry
We sleep and dream sometimes were sad, sometimes we’re
happy
You breathe, I breathe,
We Love, walk, talk and we smile
I care about you and I wish you could realize
I care about you and I wish you could realize
There’s no difference between us two
We’re part of one family no matter how far you are
And even if we don’t know each other
Oh, you and me, me and you,
We are One.”
“Segala yang ada di dunia ini,
Adalah Cinta-Kasih Tuhan
Dia beri satu kelebihan
Kita tinggi di atas yang lainnya
Janganlah ragu dalam bertindak,
Janganlah ragu dalam bertindak,
Tak baik berpangku tangan,
Isilah lagi hari-harimu,
Untuk bekal kelak di masa datang
Kawan, kita ini satu,
Kawan, kita ini satu,
Mari membagi Kasih dan Sayang
Jangan siakan mereka di dalam derita
Ulurkan tanganmu kawan,
Ulurkan tanganmu kawan,
Bisa merubah nasib mereka
Sehingga mereka dapat tersenyum,
Hilang duka di masa lalu
Segala yang ada di dunia ini,
Segala yang ada di dunia ini,
Adalah Cinta-Kasih Tuhan
Dia beri satu kelebihan,
Kita tinggi di atas yang lainnya
Begini aku peduli kamu,
Begini aku peduli kamu,
Tak baik berbeda jalan
Janganlah hanya dengan kata-kata,
Tapi lakukan dengan tindakan nyata.”
“Yo’
kita jelang Sinaran Matahari pagi
Gantungkan
cita-cita di Langit yang tinggi
Mulai
kita tulis semua kehidupan di kertas
Tinta
keluar dari dalam pena
Berirama
dengan apa yang kita rasa
Tanamkan
dalam hati tuk ubah semua
Kehidupan
monoton yang penuh putus asa
Tinggalkanlah
gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan
yang tinggi, agar semuanya terjadi
Rasakan
semua, peduli teman sejati
Senang
bahagia hingga kelak kita mati
Yo’ yo’
dunia memang tak selebar daun kelor
Akal
dan fikiran kita pun tak selamanya kotor
Membuka
mata-hati demi sebuah cita-cita
Melangkah
pasti, pena dan tinta berbicara
Tetapkan
pilihan tuk satu kemungkinan
Sebagai
Bintang harapan di masa depan
Ini
bukan mimpi ataupun halusinasi
Sebuah
anugrah yang akan kita nikmati nanti
Hasil
kerja keras kita terbayarkan lunas
Melakoni
Jati-Diri sampai puas
Tinggalkanlah
gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan
yang tinggi, agar semuanya terjadi
Rasakan
semua, peduli teman sejati
Senang
bahagia hingga kelak kita mati
Jalan
sedikit tersungkur terjungkir balik
Melangkah
menuju titik, lakukan yang terbaik
Kita
kuatkan tekad dan niat agar melesat
Seperti
anak panah mimpi kan kita dapat
Bukan
satu yang ingin kita tuju
Menguasai
dunia dan menjadikan satu
Yuk
cari sensasi ataupun kontroversi
Sebagai
cara kita untuk merekonstruksi
Pola
fikir dan pola hati
Agar
semua tak menjerat diri
Kita
bebas lepas jiwapun puas
Dapat
anugrah dari Yang di atas
Maka
lebarkan sayap dan terbanglah yang Tinggi
Dari
mimpi semua hal dapat terjadi.”
“Kuatkanlah
hatimu lewati setiap persoalan
Tuhan
selalu menopangmu
Jangan
berhenti harap pada-Nya..
Tuhan pasti sanggup…
Tuhan pasti sanggup…
Tangan-Nya
takkan terlambat ‘tuk mengangkatmu
Tuhan
masih sanggup…percayalah,
Dia
tak tinggalkanmu…
Kuatkanlah hatimu lewati setiap persoalan
Kuatkanlah hatimu lewati setiap persoalan
Tuhan
selalu menopangmu
Jangan
berhenti harap pada-Nya..
Tuhan pasti sanggup…
Tuhan pasti sanggup…
Tangan-Nya
takkan terlambat tuk mengangkatmu
Tuhan
masih sanggup…percayalah,
Dia
tak tinggalkanmu…
Tuhan pasti sanggup…
Tuhan pasti sanggup…
Tangan-Nya
takkan terlambat tuk mengangkatmu
Tuhan
masih sanggup…percayalah,
Dia masih sanggup…
Tuhan
pasti sanggup…
Tangan-Nya
takkan terlambat tuk menganggkatmu
Tuhan
masih sanggup…percayalah,
Dia
tak tinggalkanmu…
Percayalah, (percayalahhh…) percayalah,
Percayalah, (percayalahhh…) percayalah,
(
Kita harus percaya ..)
Percayalah, Dia kan mengangkatmu…”
“Langkah tegap kakiku
dengarkan hentakanku
Kadang aku terjatuh tapi ku terus maju
Kejar dengan hatimu lakukan sungguh-sungguh
Apapun yang kau mau apapun impianmu
Karena di dalam hidup ini tak ada yang tak mungkin
Lihatlah kawan bulan masih bersinar
Terangi malam hidup terus berjalan
Raih mimpimu bulatkan tekadmu
Mestakung, Semesta mendukung
Karena di dalam hidup ini tak ada yang tak mungkin
Lihatlah kawan bulan masih bersinar
Terangi malam hidup terus berjalan
Raih mimpimu bulatkan tekadmu
Mestakung, Semesta mendukung
Lihatlah kawan bulan masih bersinar
Terangi malam hidup terus berjalan
Raih mimpimu bulatkan tekadmu
Mestakung, Semesta mendukung.”
“Wae wa e o, wae wa e o,
Wae wa e o, wae wa e o,
Aku di sini kau di sana,
Tak menghalangi jiwa kita
Dalam hangatnya Sang Mentari
Satukan jiwa dan hati
Berpegang tangan dalam mimpi yang sama
Dan tunjukkan kepada dunia
Kita bisa, kita pasti bisa
Kita akan raih Bintang-bintang
Kita bisa jadi yang terdepan
Bersatu bersama dalam satu irama
Terbang meraih kejayaan, kita bisa!
Wae wa e o, wae wa e o,
Wae wa e o, wae wa e o
Menang kalah bukan masalah
Perjuanganlah yang terhebat
Senyuman hangat takkan terlupakan
Dan tunjukkan kepada dunia
Kita bisa, kita pasti bisa
Kita akan raih Bintang-bintang
Kita bisa jadi yang terdepan
Bersatu bersama dalam satu irama
Terbang meraih kejayaan, kita bisa!
Wae wa e o, wae wa e o.”
Saat itu semua warga bahagia, hidup di Katulistiwa yang indah bagaikan Surga,
dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia Serikat, Dalam
satu keluarga yang saling berkat, dalam naungan burung Garuda, simbol Negara
yang Paling Utama,
yang di dalamnya tertera Tri Sila (Ketuhanan Yang Esa, Kemanusiaan yang Adil dan ber-adab, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan),
dengan Sang Merah Putih
sebagai bendera Pusaka, simbol Negara yang nomor dua. Berlagu Kebangsaan
Indonesia yang akan menjadi Mercusuar Dunia. Satu hati dan satu jiwa, meski
jalani kehidupan yang berbeda, dalam Pemerintahan
berkerakyatan yang Adil merata, sehingga kehidupan pun aman
sentausa. Satu nusa, satu bangsa, satu Bahasa kita. Tanah air pasti
jaya untuk selama-lamanya. Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, nusa bangsa
dan Bahasa kita bela bersama. Kita bersatu padu membangun Bangsa, membangun
jiwa membangun raga tuk jadikan Indonesia yang Raya, jadikan Indonesia Mercusuar Dunia.
“Indonesia tanah
airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia
Kebangsaanku
Bangsa dan Tanah
Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku
semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang
kucinta
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia
Raya
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang
kucinta
Indonesia Raya,
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia
Raya.”
“Indonesia tanah air
beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu
kala
Selalu dipuja-puja
bangsa
Di sana tempat lahir
beta
Dibuai dibesarkan
bunda
Sampai nanti di hari
tua
Sampai akhir usia dan
Moksa.”
“Hai apa khabar
kamu semua
Hai sudah lama kita tak jumpa
Hai khabar baik kami semua
Hai bagaimana kamu semua, baik bukan
Semoga kamu gembira jumpa dengan kami
Seperti kami gembira jumpa dengan kamu
Kami menyanyikan lagu, lagu untuk kamu
Agar hatimu gembira jumpa dengan kami
Kami dan kamu, kamu dan kami
Kita gembira bersama
Karena kita adalah saudara
Satu nusa satu bangsa satu Bahasa
Kita semua warga Indonesia tercinta.”
“Sinar matamu
tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi membumbung tinggi
Bangunlah putra putri Ibu Pertiwi
Mari satukan hati, satukan jiwa
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda adalah burung perkasa
Sang saka adalah lambang pusaka
Dan coba kau dengarkan
Pancasila rumusan nilai moral bangsa
Yang kaya makna berisikan harapan
Bukan berisikan angan khayalan
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi membumbung tinggi
Bangunlah putra putri Ibu Pertiwi
Mari satukan hati, satukan jiwa
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda adalah burung perkasa
Sang saka adalah lambang pusaka
Dan coba kau dengarkan
Pancasila rumusan nilai moral bangsa
Yang kaya makna berisikan harapan
Bukan berisikan angan khayalan
Pancasila itu pemersatu anak bangsa
Yang kan satukan hati meski kita beda.”
“Kita
sangatlah beda, jalani hidup kita
Tapi kita satu, mimpi kita satu
Bersama jelajah dunia
Buanglah semua ragumu
One Heart... One Heart
Terus melangkah bersama satu hati
One Heart, One Heart
Ooo One Heart
One Heart... One Heart
Terus melaju lupakan masa lalu
One Heart, One Heart
Ooo One Heart.”
Tapi kita satu, mimpi kita satu
Bersama jelajah dunia
Buanglah semua ragumu
One Heart... One Heart
Terus melangkah bersama satu hati
One Heart, One Heart
Ooo One Heart
One Heart... One Heart
Terus melaju lupakan masa lalu
One Heart, One Heart
Ooo One Heart.”
“Indahnya Negeri tempatku berdiri
Berjuta warna di Bumi Pertiwi
Aku ingin terbang nan Tinggi
Berbhakti untukmu Negeri
Sejauh apapun kaki melangkah
Merah putih kau selalu kubela
Aku berjanji terus mengabdi
Cintaku untukmu Negeri
Indonesiaku jaya, Indonesiaku Raya.”
“Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang Mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
Melambai-lambai, nyiur di pantai
Berbisik-bisik Raja Kelana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku, Indonesia.”
“Membentang persada tanah pusaka
Di garis khatulistiwa Negeriku tercinta...Indonesia
Bermandikan Cahaya cerah Sang Surya
Bermandikan Cahaya cerah Sang Surya
Sejahteralah bangsaku,
Damailah Negeriku....selamanya
Di alam merdeka hidupku,
Di alam merdeka hidupku,
Bebas memilih cara...hidupnya...hidupnya
Semua derita Negeriku di masa-masa lalu...
Berlalu...berlalu
Berpanji dwiwarna megah perkasa jayalah Nusantara
Berpanji dwiwarna megah perkasa jayalah Nusantara
Jayalah Negeriku...selamanya.”
“Indonesia tanah kelahiranku
Nan indah permai kebanggaanku
Di sini ku berdiri ikrarkan janji
Untuk mu Negeriku suci nan abadi
Negeriku jayalah bangsaku selalu
Engkaulah yang ku cinta
Engkaulah yang ku puja
Segenggam harapan sejuta mimpi
Ingin ku abdikan diri pada mu Negeri
Adil makmur untuk mu Indonesia
Jayalah Negeriku bangkitlah bangsaku
Angkatlah panjimu satukan mimpimu
Yang tak akan padam menggapai cita
Adil dan makmur sejahtera sentausa
Jayalah Negeriku bangkitlah bangsaku
Angkatlah panjimu satukan mimpimu
Yang tak akan padam menggapai cita
Adil dan makmur sejahtera sentausa.”
“Aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa
Alam berseri-seri bunga beraneka
Mahligai rama-rama, bertajuk cahya jingga
Surya di Cakrawala
S’lalu berseri, alam indah permai di khatulistiwa
S’lalu berseri, alam indah permai di khatulistiwa
Persada senyum tawa, hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan, burung berkicau ria
Bermandi embun Surga
Syukur ke hadirat yang Maha Pencipta
Atas anugerah-Nya tanah nirmala
Bersuka cita,
Insan di persada yang aman sentosa
Damai makmur merdeka di setiap masa
Bersyukurlah kita semua
(Bersatulah kita semua)
S’lalu berseri, alam indah permai di Indonesia
S’lalu berseri, alam indah permai di Indonesia
Negeri tali jiwa hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan, burung berkicau ria,
Bermandi embun Surga
Syukur ke hadirat yang Maha Kuasa
Atas anugerah-Nya tanah bijana.”
“Tanah tumpah darahku yang Suci Mulia
Indah dan permai bagaikan intan permata
Tanah airku tanah pusaka Ibuku
S’lama hidupku aku setia padamu
Kali Gunung Lautmu yang biru nirmala
Indah dan permai bagaikan intan permata
Tanah airku tanah pusaka Ibuku
S’lama hidupku aku setia padamu
Kali Gunung Lautmu yang biru nirmala
Pantai Hutan tasikmu kucinta semua
Tanah airku kupuja kau di hatiku
T’rima salamku hormat setia padamu
Bumi Ibu Pertiwi yang subur sentausa
Indah berseri bagaikan taman segara
Tanah airku tujuan segala daya
Dirgahayulah diri Ratuku Bahagia.”
Tanah airku kupuja kau di hatiku
T’rima salamku hormat setia padamu
Bumi Ibu Pertiwi yang subur sentausa
Indah berseri bagaikan taman segara
Tanah airku tujuan segala daya
Dirgahayulah diri Ratuku Bahagia.”
“Hamba
ingin mengabdikan diri hamba kepada ajaran-ajaran Maha Resi Mahamada. Naluriku
berkata Beliau adalah Pemimpin
yang akan membawa Keselamatan, dan menuntun hidup manusia ke Jalan
TUHAN. Maha Resi Mahamada telah mempersatukan
perbedaan suku, asal-usul dan tabiat menjadi sebuah kehidupan penuh pengertian
dan kejujuran,
dalam sebuah wadah Negara yang penuh dengan rasa kekeluargan. Dia adalah Pemimpin Agung Sejati, penuh
Welas-Asih dan toleransi, Pelindung seluruh pemeluk Agama tak hanya di persada
Nusan-tara, tapi juga ke segenap penjuru dunia. Dia-lah Maha Resi Mahamada, Sang Hyang Widhi
Wasa, TUHAN Alam Semesta.”
---oOo---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar